Langsung ke konten utama

EDUKASI : KAMI BUTUH GUBUG, PENDEKATAN RAMAH PADA SISWA


Suatu hari saya sedang ngobrol dengan seorang murid yang telah melakukan keusilan terhadap teman-temannya atau dengan kata lain anak ini bandel. Selidik punya selidik ternyata mereka kehilangan kasih sayang sebuah keluarga, ibarat sebuah pohon yang memberi naungan dan perlindungan terhadap hewan-hewan penghuni hutan.

Kebanyakan dari anak-anak tersebut mendapati kehidupan mereka dengan keluarga yang tidak utuh, maksudnya, kebanyakan mereka tinggal dengan embahnya ataupun dengan saudaranya, kedua orang tua mereka ada yang bekerja di Sumatra, Kalimantan dan di Jakarta yang pulang ke rumah hanya ketika momen lebaran ataupun pada kepentingan yang sangat mendesak Memang tidak bisa disalahkan kondisi tersebut. Mereka membutuhkan hidup yang layak dengan mencari rejeki meskipun sampai di negeri orang yang jauh dari kampung halaman demi kebutuhan anak-anak mereka di desa dan atau kondisi lain seperti karena orang tuanya bercerai yang menjadikan mereka seperti anak ayam yang kehilangan induknya atau dengan kata lain mereka menjadi broken home. 

Ketika mereka sedang menangis, tidak ditemukan pundak tempatnya bersandar melepas kesedihan, saat mereka berbuat salah tidak ada yang membimbingnya.
Masa ABG (anak baru gede) merupakan  masa yang sangat riskan, karena dari segi fisik mereka telah dan mulai berubah, secara psikis mereka sudah tidak mau dianggap sebagai anak kecil, tetapi kalau kta anggap sebagai manusia dewasa belum tepat.

Kelabilan masa ini memang perlu mendapat perhatian dari manusia-manusia dewasa disekitarnya. Ketika Siswa masuk dalam kelabilan ini, sifat-sifat memberontak dan ingin lepas dari aturan serta ingin menonjolkan dirinya pada lingkungan mereka kadang memberi imbas pada lingkungan baik itu teman, guru ataupun lingkungan dimana dia tinggal. 

Ketidakstabilan dalam sebuah keluarga yang tidak utuh memang memperkeruh usaha untuk menjernihkan akal dan pikiran anak ABG. Saya menemukan kisah yang mungkin bisa digunakan sebagai cermin dari realita. Ada seorang anak anggap saja namanya Gareng, Gareng selama ini tinggal di kelas pada level bawah. di sini banyak teman-teman yang sepaham dengan dia dengan bahasa lain disini tempat berkumpulnya anak-anak yang dianggap malas dan suka mencari perhatian. Ketika ada pembagian kelas, ternyata gareng naik ke kelas dengan tingkatan level yang lebih tinggi. dan apa yang terjadi? ternyata si gareng melayangkan protes dengan pembagian kelas tersebut.

Alasanya Gareng tidak mempunyai teman di kelas baru ini, temen-temannya berada di kelas yang lama sehingga dia ingin kembali ke kelas lama meskipun secara kelas turun level. Protes ini dapat dibaca sebagai sebuah ketidakmampuan Gareng mengontrol mental akan hidup bersosial. sisi lain seorang Gareng ternyata Gareng ini tidak mempunyai keluarga yang utuh orang tuanya berpisah sehingga dia tinggal dengan embahnya. dengan tinggal bersama embahnya, telah mempengaruhi pola pikir dan mentalitas dia sebagai seorang anak. sikap ingin mencari perhatian, berusaha superior terhadap yang lain ternyata membuat dia menadi terasing dengan lingkungan "normal'. dia lebih suka bergabung dengan komunitas yang dia merasa nyaman. Padahal komunitas tersebut juga berisi anak-anak yang sejenis dengannya. 

Sebuah keluarga yang utuh dan saling menyayangi dan penuh kepekaan dapat memberikan efek ataupun melindungi anak dari sikap yang tidak terkontrol tersebut. dengan keluarga, membuka pintu kenyamanan dalam hal usaha mengembangkan diri anak menjadi orang yang survive dan mampu memahami lingkungan sekitar. Memang kebanyakan anak yang bandel di sekolah mempunyai rekaman yang kurang baik pada keluarga mereka seperti, berpisahnya orang tua, hidup tidak tinggal dengan orang tua, Orang tua yang galak, Orang tua yang tidak mau memberi perhatian atau memberi sapaan-sapaan hangatnya telah membuat anak menjadi lepas kendali.

Solusinya bagaimana? ya, sebagai unsur dalam pendidikan, keluarga harmonis merupakan harga mutlak bagi perkembangan peserta didik. Sebagai orang tua tentunya mempunyai komitmen untuk mewujudkan keluarga yang harmonis, sebagai guru, maka hal yang bisa dilakukan adalah memposisikan dirinya betul-betul sebagai orang tua yang sebenarnya sehingga anak merasa terobati dan terayomi dan dapat dengan nyaman menganggap gurunya sebagai orang tua.

Meskipun hanya sebuah gubug jerami, ternyata bisa melindungi dari hujan...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Purbalingga, Bengkelnya Manusia Purba di Indonesia

Purbalingga, Bengkelnya Manusia Purba di Indonesia Siang itu saya lagi ngobrol dengan pak waluyo, guru bahasa jawa di sekolah kami, Beliau sedang asyik membaca LKS yang saya lihat sedang membaca tentang manusia purba pertama di Indonesia ya di Purbalingga kota kami tercinta.  Beneran neh ? terus saya minta izin untuk membacanya, wah benar bahwa daerah Purbalingga dulunya memang tempat bengkelnya manusia purba di purbalingga. terus sy browsing di internet.  Ya, menurut arkeolog Prof Truman Simanjuntak memeng Purbalingga dulunya merupakan cekungan besar tempat dibuatnya peralatan purba hal ini dibuktikan dengan ditemukannya alat-alat manusia purba di daerah sepanjang aliran sungai Klawing dan sekitarnya, bahkan ada batu pocong hi hi hi. apa ada hubungannya nama Purbalingga dengan manusia purba sendiri? P eninggalan benda megalitikum atau zaman batu besar banyak ditemukan di lereng di Purbalingga, Jawa Tengah. Batu ini ada beberapa bentuk seperti batu berbentuk pocong, punden be...

Dari singkong kita bisa maju : sebuah sharing pengalaman sederhana tentang pembuatan bio ethanol dari singkong

Bio ethanol, mungkin tidak semua orang memahaminya, ya , bio ethanol merupakan salah satu sumber alternatif energi yang mempunyai potensi di masa depan, Dua Minggu yang lalu kami melakukan kegiatan, yang mungkin oleh kebanyakan siswa SMP jarang dilakukan. Di sekitar sekolah kami, SMP N 1 Kaligondang, banyak sekali ditemukan perkebunan singkong, yang meliputi kecamatan Kaligondang, kecamatan Pengadegan dan kecamatan Kejobong, keadaan tanah yang kering berupa tegalan dimanfaatkan untuk bertanam singkong. berawal dari potensi lokal tersebut, sangatlah mempunyai prospek bagi pengembangan energi alternatif dari singkong.untuk membuat bio ethanol dari singkong memang kami tidak dari awal kegiatan yaitu dari fermentasi tetapi dari bahan tape singkong yang sudah di jual di pasar.  Diharapkan dari pembuatan bio ethanol sederhana dapat membuka wawasan baru bagi siswa mengenai energi alternatif. bahan yang kami siapkan yaitu, tape singkong, untuk peralatan yang digunakan adalah : 2 buah ...

PRAKTIK MEMBUAT ES GOYANG.GARAM MENURUNKAN TITIK BEKU

ES GOYANG Hari itu, Kamis 20 Januari 2011, ada sebuah pengalaman baru yang kami dapatkan.  Anak kelas 7 sekolah kami membuat es, namanya es goyang. Kenapa disebut es goyang? ya mungkin karena pembuatannya perlu digoyang-goyang he... he... he ... Rencana kegiatan ini memang sudah di setting beberapa hari sebelumnya agar dipersiapkan segala " uba rampenya ". Anak-anak di sekolah kami memang kebanyakan termasuk golongan menengah ke bawah malah kebanyakan banyak yang tidak mampu secara ekonomi, hanya dua atau tiga orang dalam satu kelas yang memiliki lemari es. Sehingga, mereka begitu antusias ketika saya ajak untuk membuat es dengan bahan yang sederhana. Alat dan bahan yang kami siapkan antara lain : es batu, garam, wadah plastik dan termos es, dan tentunya bahan es nya yaitu susu sachet-an. Bahan susu kami pilih karena secara kandungan gizi lebih baik, juga untuk mendapatkannya lebih murah dan mudah. Ketika saya masuk kelas, mereka  antusias menanyakan prosedur atau langkah k...