Ini mungkin bukan hal penting mengenai hubungan guru dan murid, dalam sebuah hubungan keseharian tentunya guru dan murid tidak lepas akan adanya persinggungan baik yang menimbulkan crash ataupun yang dapat memberikan kesejukan. Hubungan guru dan murid adalah sebuah hubungan yang melekat dalam sebuah usaha manusia memanusiakan manusia - manusia muda ( Driyarkara ), kalo menurut bahasa saya ya "ngupakara wiji thukul". Sebuah biji memang harus tumbuh, seorang petani berusaha merawat tanaman padinya agar dapat menghasilkan bulir-bulir padi yang berisi dan baik. Dalam menanam padi tentu tidak lepas dari gangguan baik itu gangguan hama, cuaca, pemupukan, benih padi ataupun petani itu sendiri. Analogi tersebut dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. permasalahan input seperti peserta didik, fasilitas bahkan tenaga pendidiknya telah berpengaruh terhadap output pendidikan yaitu siswa yang mampu berprestasi dan survive dengan situasi dunia yang terus berubah.
Peserta didik tidak semuanya jago matematika, tidak semuanya jago dalam seni ataupun tidak semuanya jago dalam IPA, kalaupun ada mungkin 1 banding 1000 yang jago semua materi pelajaran. Ketidakmampuan (baca=belum mampu) seorang murid dalam menerima materi antara lain materi itu belum dapat tersampaikan dengan baik sesuai dengan konsep diri dari murid, kadang guru menjelaskan materi dengen "bahasa" sendiri tanpa melihat "bahasa" murid. adanya ketidak-nyambungan ini lah yang sering membuat friksi - friksi dalam sebuah hubungan guru dan murid. Acap kali kita dengar teguran guru " Kamu ini bodo amat sih, soal kaya gini aja ndak bisa, nyari rumput aja sana buat makan kambing dari pada sekolah !". Ya, itu salah satu contoh kata-kata guru pada muridnya apalagi diperparah kalo dengan hukuman fisik.
Dicap bodoh oleh orang ternyata memberikan efek yang luar biasa bagi mereka. murid yang dicap bodoh akan merasa dirinya akan bodoh terus, mentalitas seperti ini yang sangat berbahaya bagi perkembangan murid selanjutnya, murid akan merasa dia akan bodoh terus wlaupun sebenarnya dia mampu, mind setting atau pola pikir tersebut ternyata dapat mempengaruhi aspek kognitif dan psikomotorik serta afektif dari murid tersebut, setelah mendapat label bodoh dia akan merasa malas belajar, benci dengan gurunya dan menganggap bahwa memang dia benar - benar bodoh." Ah nagpain saya belajar, saya kan termasuk anak bodoh dan mals" kata mereka. Berbeda dengan kasus ketika seorang murid terus diberi kata-kata positif "kamu ini pandai lho" atau " kamu sebeneranya bisa, coba deh dipelajari lagi" kata-kata ini meskipun sederhana ternyata mampu memberikan kepercayaan diri bahwa murid mampu. Sering kali kita lihat contoh bahwa seorang murid diposisikan bahwa dia murid pandai maka dia kan berusaha untuk membuktikan image tersebut pada guru, murid lain maupun orang tuanya meskipun secara kemampuan intelektual biasa-biasa saja tetapi dengan image tersebut dia akan berusaha sebisa mungkin sesuai dengan image yang diberikan oleh gurunya tersebut.
Ini bukan menjudge bahwa guru terlalu jahat sehingga membuat murid terperosok dengan kata-kata guru, tapi sebagai refleksi bagi semua unsur pendidikan bahwa untuk menjadi pandai diperlukan mind setting positif dari guru, orang tua ataupun lingkungan bagi seluruh murid tanpa kecuali sehingga siswa bisa mereproduksi hal-hal yang positif.
Saya yakin kamu pasti bisa !
Saya yakin kamu pasti bisa !

Komentar
Posting Komentar
Just Share...